Lalala..Aku si Anak Tersesat di Tengah Kecilnya Kota (chapter 2)
April 28, 2007 – 9:11 amSebelum kita lanjutkan cerita an-an, ada baiknya menilik sebentar cerita sebelumnya.
—————————————————————–
Cerita sebelumnya :
an-an -> seorang gadis yang hendak mengubah nasibnya. (Nasib disini tuh apa sih???masih misteri-_-). Terakhir diceritakan bahwa an-an baru hendak berangkat menuju toko yang dapat mengubah nasibnya setelah melakukan aksi telpon-menelpon dan tawar-menawar serta survei-mensurvei.
—————————————————————–
An-an pergi dengan angkot sambil membawa benda yang ingin diubah nasibnya oleh an-an. Dalam angkot an-an was-was karena takut salah turun, kebablasan, dan sebagainya. Ternyata eh ternyata, kekhawatiran itu menjadi kenyataan
. Dasar an-an, udah diberi petunjuk jalan, tetep aja tersesat karena kedodolannnya
ck ck ck.. Sambil bingung karena ga mengenali daerah tempat ia berdiri ia bertanya ke seorang pria berseragam di seberang jalan.
—————————————————————–
an-an :: (menanyakan jalan)
—————————————————————–
(Pertanyaan ga ditulis karena kalau ditulis ketahuan kenapa setelah itu an-an semakin ga jelas juntrungannya). Bodohnya lagi (nyapek-nyapekin diri aja nih), an-an bertanya dengan konteks yang salah sehingga arah yang diberitahukan oleh pria berseragam itu pun jadinya salah juga
. Ya ampun… Setelah berjalan semakin jauh dari tujuan semula, an-an mulai menyadari kalau dia salah arah. Melihat papan-papan alamat yang alamatnya sudah pasti bukan alamat yang mau dia datangi. Kembali ia berhenti, melirik kesana kemari dan bertanya kembali pada seorang pedagang keliling di seberang sawah.
Sayang sekali, pedagang tersebut kurang tau jalan ternyata..ck ck ck..Akhirnya ia memanggil temannya seorang penjaga sawah yang lebih hapal daerah itu daripada dia.
—————————————————————–
panjaga sawah :: Uwaaa… Kalo itu sih arahnya kesana mba (menunjuk ke arah datangnya an-an
) ..
an-an :: (mencoba tetap tenang) oooohhhhh… (dalam hati berpikir, sial harusnya tadi aku percaya kata hati ajaaaaaaaa
)
—————————————————————–
Penjaga sawah menyarankan an-an untuk naik angkot saja. Tapi eh tapi, an-an kan sudah tidak punya uang kecil (lihat side story cerita sebelumnya). Ia mencoba menukar uang ke pedagang keliling. Gagal!!!! Dengan pasrah an-an berpikir, jalan aja deh..toh itung-itung olahraga
(menghibur diri). Sebelum dia pergi, si penjaga sawah sempat mencoba menawarkan uang untuk ongkos angkot.
—————————————————————–
an-an (dalam hati) :: Tidaaaaaak…..mas, simpen aja deh uangnya. Mending dipake makan daripada dipake buat nolongin aku. Toh ga gitu-gitu amat jauhnya. Tidaaaaak, nyusahin banget sih diriku, hiks…
—————————————————————–
An-an memutuskan untuk tidak terlalu banyak menyusahkan ataupun bergantung pada kebaikan orang lain (padahal
…). Jalanlah dia terus dan terus jalan menapaki jalan setapak sampai akhirnya dia sampai di tempat tujuan!!!! Gilaaaa… Setelah sampai ia berpikir,
—————————————————————–
an-an :: Ternyata jalannya ga sesulit itu. Coba tadi bener-bener menyimak petunjuk ibu peri…. Yak, misi dimulaaaaaaiii!!!!
—————————————————————–
Side story :
GUBRAK!! An-an terpeleset saat hendak menghindari gerobak yang mau lewat.
to be continued…
